Dua Kali Menjelajah Kremlin
Selamat pagi, Kremlin! Brrrr…!! Saya menggeretukkan kedua geraham. Seluruh tubuh rasanya tertusuk-tusuk udara dingin sampai ke tulang. Padahal saya sudah mengenakan pakian empat lapis. Dress code suit lengkap membungkus pakaian dalam musim dingin masih juga dibalut lagi dengan jaket tebal dari luar. Tapi, udara dingin belum tertaklukkan. Dan yang kedinginan tidak hanya saya. Semua anggota rombongan wartawan dari
Kami diberangkatkan satu jam lebih dulu dari hotel menuju Alexander Garden, tempat upacara peletakan karangan bunga oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di makam pahlawan tak dikenal bangsa Rusia. Dari luar pagar makam, kami dapat melihat api abadi yang terus menyala dari tungku bawah tanah. Di sekitar tungku itu sedang bersiap pasukan aubade militer yang akan mengikuti upacara pukul 09.00 Waktu Moskow.
Tidak jauh dari makam pahlawan tak dikenal itu terdapat Arbat Lama. Sebuah daerah pejalan kaki yang “dipagari” oleh berbagai toko cindera mata, toko buku, toko barang antik, toko perhiasan, gedung teater, galeri kafem dan restoran, serta diramaikan oleh pelukis potret dan pemain musik. Pemandangan keramaian ini tentu saja lebih mudah ditemukan pada musim panas. Sedangkan pada musim dingin, orang-orang yang pergi ke
Sedangkan pagi itu, karena akan dilangsungkan ucapara kenegaraan untuk tamu Presiden Vladimir Putin, daerah tersebut terutup sementara. Bahkan kami yang mencoba permisi untuk ke toilet, kepada para petugas keamanan Rusia itu, tidak mendapatkan respons posotif. Mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan tegas, serta menyilangkan tangan mereka. “Daerah tertutup, sampai upacara selesai,” kata seorang petugas berseragam tentara itu.
Masih berdekatan dengan Kremlin, terdapat sebuah galeri Tretyakovsky Galery yang jarang dilewatkan oleh turis asing yang datang ke Moskow. Galeri lukisan ini berisi lebih dari 100 ribu karya seni Rusia dari abad ke-11 hingga ke-20. Dari data-data yang mudah ditemukan di pintu museum, dijelaskan bahwa bangunan galeri yang dibangun pada tahun 1856 itu sebelumnya adalah rumah tinggal Pavel Tretyakov, seorang kolektor karya seni terbesar pada masanya.
Pada tahun 1892, Pavel Tretyakov menyumbangkan seluruh koleksinya (1287 lukisan, 518 gambar dan 9 patung) kepada
Bila dilihat dari udara, Kremlin berbentuk segitiga. Di sisi datar bagian selatan dibatasi oleh Sungai Moskwa yang melengkung memisahkan sepertiga daratan Moskow berbentuk busur. Di sisi miring sebelah kiri membentang Alexander Garden yang memisahkan tembok Kremlin dari jajaran pertokoan dan gedung-gedung perkantoran serta perumahan. Lalu di sisi miring sebelah kanan, membentanglah Lapangan Merah (Red Square) yang terkenal itu, yang bersama tembok Kremlin mengapit Musoleum Lenin di sebelah utara, tempat disimpannya jenazah Bapak Revolusi Rusia Vladimir Illych Lenin yang telah dibalsam, dan di bagian selatan mengapit sebuah gereja orthodoks Pokrovsky Cathedral.
Dalam bahasa Rusia Kremlin berarti “benteng” (fortress) atau “benteng
Selain gedung-gedung perkantoran dan tempat tinggal kepala negara, di dalam kompleks Kremlin terdapat juga berbagai monumen arsitektur, gereja orthodoks, dan museum Armoury Chamber berisi peninggalan barang-barang kerajaan, seperti pakaian kebesaran, senjara perang, peralatan rumah tangga, dan kereta kerajaan. Di dalam museum Armoury ini masih terdapat pula museum khusus permata kerajaan.
Pukul 09.30 Waktu Moskow, upacara peletakan karangan bunga oleh Presiden SBY dilakukan. Udara dingin mulai berkurang. Sekelebat cahaya matahari tampak menerangi langit Moskow, namun sukar dipastikan apakah matahari telah menyembul sempurna di atas
Mengikuti upacara yang berlangsung secara militer, Presiden didampingi pejabat
“Bukan main. Boleh jadi inilah aubade militer yang paling indah dan masih ada,” kata seorang pajabat
Selesai upacara, kami mengikuti pertemuan dan juga berkunjung ke tempat lain. Dan siang harinya, kembali mendatangi Kremlin untuk kedua kalinya. Para wartawan
Lapangan Merah (Red Square, Krasnaya Ploschad) merupakan lapangan
Sebuah lapangan yang juga terkenal adalah Poklonnaya Gora, sebuah tempat berisi museum dan monumen kemenangan Rusia atas Prancis pada Perang Dunia II. Sementara bersisian dengan Sungai Moskwa di bagian selatan, membentanglah Gorky Park, sebuah tempat yang dilantunkan oleh grup rock terkenal Scorpions itu, sebagai bagian dari ikon perubahan yang terjadi di Rusia, dari pemerintahan komunisme yang tertutup ke pemerintahan yang lebih terbuka dan demokratis seperti sekarang.
Yang sayang dilewatkan juga adalah
Meski sudah tengah hari Waktu Moskow, bagi saya udara masih saja tak teratasi. Hawa dingin tetap menusuk-nusuk ke tulang. Namun bayang-bayang akan menjenguk “rahasia” Kremlin, menjadi pendorong bagi saya mengikuti rombongan dengan langkah kukuh, melalui pemeriksaan demi pemeriksaan kedua kalinya memasuki Kremlin itu.
Kami sedang berada di kantor seorang kepala pemerintahan sebuah negara yang memiliki sejarah kebudayaan, ilmu pengetahuan, seni, politik, dan sosial yang panjang serta kaya: Rusia. Semasa namanya masih Uni Sovyet, wajah-wajah dingin anggota dinas rahasia Rusia yang melakukan pemeriksaan secara ketat kepada para pengunjung itu, terkenal kaku, dingin, dan tak bersahabat.
Paling tidak itulah yang digambarkan film-film James Bond yang pernah saya tonton. Tapi siang itu, bayangan “tak bersahabat” itu sirna. Yang memeriksa kami adalah para petugas keamanan dengan pakaian jas-pantalon yang rapi, rajin melempar senyum dan ringan mengucapkan, “Spasibo, Spasibo!”. Saya pun tak dapat menahan diri dan terpancing santai suatu kali, “Terima kasih, terima kasih,” balas saya.
